![]() |
| Meme dua orang pria ketika punya twitter dan tidak. Sumber: x.com |
Walaupun sekarang Twitter sudah berganti nama menjadi X, aku akan tetap memakai kata Twitter dalam tulisan ini karena aku sendiri juga belum terbiasa menyebutnya X. Selamat membaca, ya.
Awal Mula
Terhitung sejak tahun 2018, aku sudah menjadi pengguna Twitter. Selama itu, aku menyaksikan banyak perubahan di platform ini. Misalnya, algoritma Twitter sekarang lebih sering menampilkan akun-akun yang berjualan dibandingkan cuitan lucu seperti dulu.
Kalau dulu aku bisa tertawa saat membuka Twitter, sekarang malah sering pusing — entah kenapa. Mungkin itu juga alasan kenapa beberapa figur publik seperti Raditya Dika dan Ernest Prakasa memilih untuk tidak lagi aktif di Twitter. Twitter memang tidak seasik dulu, dan hal itu juga dirasakan oleh banyak pengguna lainnya.
Baca artikel lainnya: https://www.idntimes.com/hype/entertainment/5-artis-indonesia-putuskan-tutup-akun-x-kenapa-00-sd4vv-ssq9nn
Tentang #ZonaUang
Kembali ke topik utama.
Ketika aku mencoba mencari kata kunci #zonauang di Google dengan harapan menemukan banyak referensi, ternyata hanya ada satu artikel yang membahasnya. Lumayan, pikirku. Mungkin alur penulisannya akan mirip, tapi kali ini aku ingin menulis versi yang berbeda aku ingin menambahkan pengalaman pribadiku di dalamnya.
Jujur, aku adalah salah satu pengguna aktif dari tagar #zonauang tersebut. Dari namanya saja sudah jelas, tagar ini berkaitan dengan segala bentuk transaksi uang, baik sebagai penjual maupun pembeli. Aku pernah menjadi keduanya.
Sebagai penjual, rasanya dulu mudah sekali mencari uang di Twitter. Waktu itu aku menjual jasa mencari ebook, haha—tidak sengaja sebenarnya. Tapi entah bagaimana, aku berhasil mendapatkan pembeli.
Tentu ada usaha yang harus dibayar, yaitu dengan mantengin timeline terbaru Twitter lewat tagar #zonauang. Capek dan pusing, karena harus cepat-cepat merespons pembeli.
Cara kerjanya sederhana: ada orang yang nge-tweet menggunakan tagar #zonauang, lalu kita sebagai penjual bisa langsung reach out kalau merasa cocok dengan konteksnya. Biasanya aku membalas dengan kalimat seperti, “Aku bisa, Kak.”
Tapi waktu itu belum banyak yang butuh jasa download ebook di tagar tersebut, jadi aku juga sering memantau akun college menfess. Setiap kali ada orang yang ngetweet sedang kesulitan mencari ebook, aku langsung balas. Fitur pencarian Twitter yang bisa menelusuri kata kunci terbaru sangat membantu di situ.
Asal-usul dan Perkembangan
Soal sejarah munculnya tagar #zonauang, aku sendiri kurang tahu. Tiba-tiba saja muncul dan ramai dipakai banyak orang. Seiring waktu dan mungkin karena kondisi ekonomi jumlah orang yang berjualan lewat Twitter makin banyak dari tahun ke tahun.
Sekarang, aku juga sering berperan sebagai pembeli di #zonauang. Biasanya untuk hal-hal praktis seperti membeli langganan Netflix, mencari jasa buka repository skripsi, atau kebutuhan digital lainnya.
Daripada repot mencari di marketplace, aku lebih suka mencarinya lewat Twitter. Cukup ketik tagar #zonauang dan tunggu siapa yang merespons cepat. Iya semudah itu.
Nah, tadi kalian sudah tahu sedikit tentang #zonauang melalui pengalamanku. Sekarang, aku akan kasih gambaran lengkapnya tentang seperti apa sebenarnya #zonauang itu.
Apa Itu #zonauang?
Dilansir dari laman bittime.com, secara harfiah, tagar #zonauang berarti “zona uang” atau wilayah digital tempat aktivitas jual beli, transaksi mikro, barter, atau promosi produk dan jasa dilakukan secara intensif.
Di komunitas bisnis online, terutama di Twitter, tagar ini sering muncul berdampingan dengan #zonaba (zona bisnis akun) sebagai penanda bahwa sebuah tweet berkaitan dengan transaksi atau promosi.
Menurut komunitas anak bisnis Twitter, #zonauang digunakan sebagai ruang interaksi untuk promosi, mencari jasa, atau menawarkan produk digital. Bahkan, sudah ada akun bernama Zona Uang di twitter yang tampaknya berfungsi sebagai wadah promosi atau pusat interaksi tagar ini.
Saat mencari tagar #zonauang di twitter, kita bisa menemukan banyak postingan yang menggabungkan penawaran, permintaan jasa, maupun diskusi seputar transaksi digital.
Fungsi & Cara Penggunaan #Zonauang
Tagar ini pada dasarnya berfungsi sebagai “etiquette” atau label agar tweet yang berisi penawaran atau pencarian transaksi mudah dicari.
Dengan menambahkan #zonauang, pengguna berharap tweet-nya akan muncul ketika orang mencari “zona uang” di twitter.
Fungsi lainnya:
- Menyortir konten promosi dari tweet biasa.
- Menjadi etalase virtual tempat pengguna memajang produk atau jasa.
- Menjadi saluran komunikasi langsung antara penjual dan pembeli.
Cara penggunaan:
- Membuat tweet promosi produk/jasa — misalnya: “Jual akun premium aplikasi X, harga murah, hubungi DM #zonauang.”
- Menjawab pencarian jasa — contohnya: “Butuh verifikasi WA murah #zonauang.” penjual bisa langsung membalas atau mengirim DM.
- Menambahkan tagar pendukung seperti #zonaba, #zonajajan, atau #zonacuan.
- Menyertakan price list (PL) agar pembeli mudah memahami produk dan harga.
Sekarang, saya akan perlihatkan penggunaannya melalui video.
Dari video tersebut jelas sekali menggunakan bot karena responnya sangat cepat. Kalau saya taunya dulu secara manual jadi lebih kerasa capeknya. Nah, tapi tenang sekarang ada cara mudahnya untuk membuat bot Twitter #zonauang. Caranya adalah Anda perlu mendaftar ke Developer Portal X membuat akun bot, dan mendapatkan API keys. Setelah itu, Anda bisa menggunakan library seperti Tweepy (Python) atau npm (Node.js) untuk menulis skrip yang akan memposting tweet otomatis menggunakan hashtag #zonauang.
Alasan Mengapa #Zonauang Ramai?
Beberapa faktor yang membuat tagar ini populer:
- Aksesibilitas media sosial — siapa pun bisa berjualan tanpa perlu toko fisik.
- Efek viral dan visibilitas tinggi — tweet dengan tagar populer punya jangkauan besar.
- Permintaan layanan digital yang meningkat — seperti jasa langganan, konversi saldo, dan pembelian akun.
- Ekosistem “anak bisnis Twitter” (BA) yang sudah terbiasa menjual dan membangun reputasi lewat tagar ini.
Potensi & Risiko #Zonauang
Potensi
- Usaha sampingan: peluang bagi orang yang ingin jualan digital tanpa harus keluar modal besar.
- Jaringan & branding: bisa membangun reputasi mikro sebagai penjual/jasa di komunitas online.
- Fleksibilitas: bisa dilakukan kapan pun lewat tweet/DM.
Risiko
- Penipuan & keamanan: transaksi via DM tanpa proteksi resmi cenderung rawan “kabur” atau penipuan.
- Pelanggaran kebijakan platform: jual beli akun aplikasi atau konten premium mungkin melanggar ketentuan layanan aplikasi atau platform media sosial.
- Reputasi: bila transaksi gagal, bisa berdampak buruk pada reputasi online.
- Hit & echo negatif: jika tagar dipakai untuk konten spam atau scam, seluruh tagar bisa tercemar citra negatif.
