![]() |
| Poster Film |
KILAS BALIK
Pada 28 Desember 2025, di sebuah pagi yang terasa begitu indah, aku akhirnya menonton film Thailand berjudul The Red Envelope. Butuh waktu cukup lama—sekitar satu tahun—hingga aku benar-benar memutuskan untuk menontonnya. Padahal sejak awal film ini tayang di bioskop, namanya sudah masuk dalam daftar tontonan yang membuatku penasaran. Sayangnya, rencana itu sempat tertunda karena sakit.
Baru kemarin, mood menontonku akhirnya naik. Mungkin karena beberapa bulan terakhir aku cukup sibuk dengan hal-hal yang menyenangkan: menulis blog, menonton drama China dan Turki, serta membaca buku. Di tengah ritme itu, rasanya pas sekali membuka pagi dengan menonton film yang sejak lama ingin kutonton.
Sejak awal, aku tahu bahwa The Red Envelope, film Thailand, merupakan adaptasi dari film Taiwan yang sempat sukses besar, Marry My Dead Body. Fakta ini membuat ekspektasiku bercampur antara penasaran dan sedikit waswas: apakah versi Thailand mampu menghadirkan rasa yang sama, atau justru menawarkan pengalaman yang benar-benar berbeda?
Secara garis besar, The Red Envelope dan Marry My Dead Body memiliki premis yang sama: sebuah pernikahan sesama jenis yang tak biasa karena melibatkan manusia dan hantu. Dari premis inilah cerita berkembang menjadi perpaduan komedi, drama, dan isu penerimaan, yang dibungkus dengan gaya khas masing-masing negara.
Setelah menonton The Red Envelope versi Thailand, kesan paling kuat yang kurasakan adalah nuansanya yang quirky dan ringan. Film ini terasa sangat komikal, absurd di beberapa bagian, tetapi tetap menyisakan sisi dramatis. Sementara itu, Marry My Dead Body versi Taiwan juga unik dan kocak, namun dibungkus dengan drama yang jauh lebih emosional, sentuhan “sexy”, serta karakter utama yang—secara personal—lebih menarik secara visual.
Selain itu, perbedaan paling mencolok terlihat pada latar belakang tokoh utama sebagai polisi. Dalam Marry My Dead Body, karakter utamanya digambarkan sebagai polisi intelijen yang diturunkan pangkatnya karena gagal menyelesaikan sebuah kasus, hingga akhirnya dipindahkan menjadi polisi lalu lintas. Alur ini terasa lebih realistis dan relevan dengan konflik yang dibangun sepanjang cerita.
Sebaliknya, The Red Envelope memilih pendekatan yang jauh lebih absurd. Tokoh utamanya adalah pencuri ponsel yang kemudian direkrut polisi untuk menjadi intel. Dari sisi logika cerita, pilihan ini memang terasa kurang masuk akal, tetapi justru menjadi sumber utama komedi dalam film tersebut.
Dari segi genre, keduanya jelas bermain di jalur yang berbeda. The Red Envelope unggul dalam komedi—banyak adegan ringan dan jenaka yang sukses mengundang tawa. Sementara itu, Marry My Dead Body lebih kuat secara emosional. Saat menontonnya, emosi terasa benar-benar mengalir, terutama lewat ekspresi dan akting Austin Lin yang tampak tulus dan penuh perasaan. Adegan-adegan emosionalnya terasa “kena” dan membekas bahkan setelah film selesai.
Untuk pemilihan karakter, menurutku tidak ada masalah berarti di kedua film. Para pemain mampu memerankan perannya dengan baik, dan chemistry antarpemain terasa solid. Baik versi Thailand maupun Taiwan sama-sama berhasil membangun hubungan karakter yang meyakinkan bagi penonton.
Pada akhirnya, sulit menentukan mana yang benar-benar lebih bagus karena keduanya unggul di aspek yang berbeda. The Red Envelope cocok untuk penonton yang mencari hiburan ringan dengan balutan komedi, sementara Marry My Dead Body lebih pas bagi mereka yang ingin merasakan cerita emosional dengan kedalaman karakter yang kuat. Sama premis, tetapi pengalaman menontonnya jelas berbeda.
Secara pribadi, aku sedikit lebih condong ke versi Taiwan. Meski begitu, keduanya tetap layak ditonton dan sama-sama pantas mendapatkan nilai 8/10.
