![]() |
| Meme kalau ada sembilan nyawa. Sumber gambar: instagram.com/awreceh.id |
Disclaimer: tulisan ini dibuat karena terinspirasi dari postingan instagram milik @ekonomi_uajy. Jika kamu lebih suka dalam bentuk visual bisa melihat postingan berikut ini. Link: https://www.instagram.com/p/DPoVbsEk4Kx/?igsh=d3I0enpzcHBkc2Vk
Tetapi, jika kamu lebih suka dalam bentuk tulisan bisa baca artikelku ini ya. Enjoy.
Lagu berjudul “Alamak” yang belakangan viral tampaknya menjadi lagu tema kasmaran favorit banyak orang saat ini. Tak main-main, karya ini melibatkan deretan musisi berbakat seperti Adrian Khalif, Rizky Febian, Belanegara Abe, Iqbal Siregar, dan Kaleb J dalam proses kreatifnya.
Baru delapan hari sejak perilisannya, lagu “Alamak” sudah berhasil mencuri perhatian publik dengan lebih dari 10 juta penayangan dan 160 ribu likes di YouTube. Video musiknya tampil dengan konsep yang sederhana namun artistik, menonjolkan keintiman dan kehangatan tanpa perlu visual yang berlebihan.
Dengan balutan genre R&B, Soul, dan Pop yang lembut sekaligus catchy, lagu ini memotret momen ajaib ketika seseorang tiba-tiba jatuh cinta dengan memiliki perasaan yang datang tanpa aba-aba, penuh debar, tawa, dan kebingungan manis yang bercampur menjadi satu.
Namun, jika kita menelusuri liriknya lebih dalam, “Alamak” bukan sekadar kisah cinta biasa. Di balik ungkapan emosionalnya, tersimpan berbagai konsep menarik yang bisa dijelaskan lewat teori-teori ekonomi perilaku. Setidaknya, ada tujuh teori ekonomi yang dapat kita temukan di balik lirik “Alamak.” Apa saja teori-teori tersebut? Yuk, kita bahas satu per satu
1. The Paradox of Happiness and Suffering
“Ulah siapa yang bisa buat ku begini, gila, ini bahagia apa menderita.”
Lirik ini mencerminkan kebingungan antara rasa bahagia dan penderitaan, sebuah dilema emosional yang sering dialami manusia ketika berada di puncak perasaan cinta. Dalam perspektif ekonomi, fenomena ini berkaitan dengan teori kesejahteraan subjektif (Subjective Well-Being) yaitu bagaimana seseorang menilai kebahagiaan dan kepuasan dalam hidupnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak selalu linier dengan situasi yang dialami; seseorang bisa merasa bahagia sekaligus menderita dalam waktu bersamaan. Dalam kerangka utility theory, hal ini menggambarkan bagaimana individu membuat keputusan berdasarkan tingkat kepuasan yang dirasakannya bukan semata-mata pada hasil objektif yang diperoleh.
2. Fear of Loss: The Cost of Risk
“Menyapa mu tak berani, mencium mu apalagi. Mata, pundak, lutut kaki gemetar ku berdiri.”
Lirik ini menggambarkan ketakutan untuk mengambil langkah pertama yaitu rasa gugup dan cemas yang muncul karena takut akan penolakan. Dalam ekonomi perilaku, hal ini sejalan dengan Teori Prospek (Prospect Theory), yang menjelaskan bahwa manusia cenderung lebih takut kehilangan sesuatu dibandingkan dengan keinginan untuk memperoleh hal baru dengan nilai yang sama.
Dalam konteks lagu, keengganan untuk menyapa atau mengungkapkan perasaan menunjukkan risk aversion terhadap potensi “kerugian emosional,” seperti rasa malu atau ditolak. Perasaan takut gagal itu sering kali lebih dominan daripada kemungkinan kebahagiaan yang bisa diperoleh jika keberanian diambil.
3. Investment in Love: The Sunk Cost Fallacy
"Kalau sampai ku miliki, tak mau ku tidur lagi, alamat malah nanti kau pergi."
Teori Sunk Cost Fallacy menggambarkan kecenderungan seseorang untuk terus melanjutkan suatu hubungan atau keputusan hanya karena telah “terlanjur” berinvestasi baik waktu, tenaga, maupun perasaan yang terkadang meskipun hasil akhirnya belum tentu sepadan. Dalam lirik tersebut rasa takut kehilangan membuat seseorang memilih bertahan, meskipun secara rasional mungkin lebih baik melepaskan. Fenomena ini mirip dengan investor yang enggan menghentikan proyek merugi karena sudah mengeluarkan banyak modal.
4. The Desire for Certainty: The “All-In” Bet
"Kalau ada, sembilan nyawa, mau samamu saja semuanya."
Lirik ini mencerminkan konsep pengambilan risiko ekstrem (extreme risk-taking), di mana individu mempertaruhkan seluruh sumber daya atau nilai yang dimiliki demi hasil yang diinginkan, meskipun risikonya besar. Dalam ekonomi, ini seperti investor yang menaruh seluruh modalnya pada satu saham berisiko tinggi dengan harapan keuntungan besar. Sikap “all-in” dalam cinta menggambarkan keinginan untuk memperoleh kepastian total, meski peluang kegagalan tetap mengintai.
5. Expectation and Uncertainty: Opportunity Cost
"Boleh aku visit, see your mom and dad aku pamit."
Konsep biaya kesempatan (opportunity cost) menjelaskan bahwa setiap keputusan selalu memiliki pengorbanan terhadap alternatif lain yang ditinggalkan. Dalam lirik ini, tindakan untuk berkunjung pada kekasih dapat diartikan sebagai bentuk pengorbanan waktu dan kesempatan untuk hal lain yang mungkin sama berharganya. Pilihan tersebut menunjukkan bagaimana keputusan emosional pun tetap melibatkan pertimbangan mengenai nilai dan prioritas, seperti halnya keputusan ekonomi.
6. Hope vs Reality: Behavioral Economics
"Minimal kau bilang, bila kau tak sayang, biar ku tahan perasaan."
Dalam ekonomi perilaku (behavioral economics), manusia kerap membuat keputusan berdasarkan emosi dan harapan, bukan logika rasional. Lirik ini menggambarkan konflik antara harapan dan kenyataan—seseorang berharap kejelasan, tetapi tetap terjebak dalam bias emosional yang membuatnya sulit menerima realitas. Ini menunjukkan bahwa dalam cinta, keputusan sering kali didorong oleh persepsi subjektif, bukan pertimbangan objektif.
7. Emotional Economics: The Cost of Waiting
"Karena ku tak kuat, tak kuat berharap."
Menunggu balasan perasaan atau kepastian dari seseorang bisa dianggap sebagai bentuk biaya menunggu (cost of waiting). Dalam ekonomi, waktu yang terbuang, energi emosional, dan ketidakpastian memiliki nilai tersendiri sebagai biaya. Lirik ini menunjukkan bahwa menunggu tanpa kepastian dapat menjadi beban emosional yang mahal, layaknya kerugian waktu dalam investasi tanpa hasil.
Kesimpulan yang bisa kita dapatkan: keputusan ekonomi dalam cinta
Cinta dan hubungan dapat dipahami melalui perspektif ekonomi perilaku, di mana setiap keputusan tidak hanya digerakkan oleh logika, tetapi juga oleh emosi, harapan, dan ketidakpastian. Dalam hubungan, seseorang selalu dihadapkan pada pilihan yang mengandung pertukaran (trade-off) dan risiko kehilangan, layaknya keputusan ekonomi dalam kehidupan nyata. Oleh karena itu, dinamika cinta sejatinya menjadi cermin dari cara manusia menilai nilai, risiko, dan pengorbanan dalam mencapai sesuatu yang dianggap berharga.
Daftar Pustaka:
ekonomi_uajy. (2025). The economics of emotions: a love dilemma, alamak dalam perspektif ekonomi [Instagram post]. Link: https://www.instagram.com/p/DPoVbsEk4Kx/?igsh=d3I0enpzcHBkc2Vk
Emotion Entertainment. (2025, October). Alamak – Rizky Febian & Adrian Khalif (Official Music Video) [Video]. YouTube. https://youtu.be/OErndIcI8gE?si=ar8Q4Cdx10_duNFs
Support me: Nih Buat Jajan
