Ada seorang mahasiswa yang menjalani KKN dengan semangat penuh. Ia anak rumahan, jarang menginap jauh dari rumah, tapi tetap merasa siap. Baginya, KKN cuma soal tinggal sebentar di desa, bikin program kerja, dokumentasi sedikit, lalu pulang dengan nilai. Sederhana saja, pikirnya.
Sayangnya, semua tidak sesimpel itu.
KKN ternyata bukan sekadar pengabdian. Itu adalah latihan hidup mandiri, waktu kerja, menghadapi birokrasi lokal, cuaca yang tidak bersahabat, dan tekanan menyelesaikan program kerja dalam waktu terbatas. Tubuhnya yang semula yakin kuat akhirnya tumbang. Sakit. Dan bukan sakit ringan, tapi sampai harus dirawat di rumah sakit. Padahal bekal kesehatannya hanya vitamin dan keyakinan bahwa semua akan baik-baik saja.
Setelah menjalani itu semua, barulah ia sadar—kampusnya tidak pernah memberi pembekalan serius soal kesehatan. Tak ada tes kesehatan sebelum KKN. Tak ada sosialisasi tentang pentingnya membawa obat-obatan pribadi. Tak ada info jelas soal ke mana harus berobat kalau sakit di lokasi KKN. Asuransi? Entah ada atau tidak. Semua terasa seperti “terjun bebas”—yang penting berangkat.
Padahal, jika dipikir-pikir, KKN bukan sekedar soal nilai. Ini tentang kesiapan hidup. Dan jika satu siswa ambruk, program satu tim bisa ikut terganggu. Masalahnya bukan hanya soal kesehatan fisik, tapi juga tentang antisipasi risiko. Sesuatu yang sering dilupakan.
Ia sempat berpikir, membayangkan andai dulu ada tes kesehatan di awal, mungkin riwayat medisnya bisa terdeteksi. Andai ada pengarahan soal prosedur darurat saat sakit, mungkin ia tidak akan terlalu panik. Tapi semua itu hanya jadi angan-angan—karena semua disadari setelah semuanya terjadi.
Yang paling menyakitkan adalah: sebenarnya dia pernah melihat langsung bagaimana kampus lain, yang lebih sistematis, menerapkan tes kesehatan sebagai prosedur wajib sebelum KKN. Tapi waktu itu ia memperkirakan hal yang biasa saja. Seharusnya, dari situ ia sudah sadar—bahwa antisipasi jauh lebih penting daripada mengobati.
Semoga kedepannya, setelah ada evaluasi, kampus bisa mulai menerapkan tes kesehatan sebagai bagian dari prosedur KKN. Bukan untuk menampung pelajar, tapi sebagai bentuk perlindungan dan deteksi sejak dini. Karena siswa bukan hanya membawa nama almamater, tapi juga membawa tubuhnya sendiri yang bisa kelelahan, tumbang, bahkan nyungsep kalau tidak dipersiapkan dengan benar.
Kisah pelajar ini adalah pengingat kecil bagi kita semua. Bahwa sebelum membawa proposal, spanduk program kerja, dan semangat pengabdian—pastikan juga membawa logika bertahan hidup: obat-obatan pribadi, vitamin, info klinik terdekat, dan kesadaran bahwa KKN bukan liburan.
Dan untuk pihak kampus, mungkin sudah saatnya menyadari: mahasiswa itu bukan superhero. Mereka bisa kuat, tapi juga bisa tumbang. Dan kalau sudah tumbang, idealisme pun bisa ikut rebah bersama suhu tubuh yang naik.
