Nggak tahu kenapa, dari dulu aku punya keinginan jadi sekretaris organisasi — dan akhirnya kesampaian juga.



Halo, aku adalah manusia yang sejak lama punya keinginan jadi sekretaris. Apakah keinginan itu tercapai? Yup, organisasi RED-lah yang akhirnya mengabulkan cita-citaku. Aneh ya, kok bisa ada orang yang cita-citanya jadi sekretaris? Mungkin karena pengaruh lingkungan, atau mungkin juga karena saya memang suka hal-hal yang berkaitan dengan administrasi dan kerapian.

Selama ini aku banyak ikut organisasi, tapi yang paling benar bisa menerima aku apa adanya hanya RED. Oleh karena itu, aku jadi semakin semangat dalam berorganisasi. Terlebih lagi, banyak hal yang berhubungan denganku meninggalkan waktu itu demi fokus di sini.

Sebelum akhirnya benar-benar jadi sekretaris, aku sebenarnya sudah diasah lebih dulu lewat program magang. Dari situ, saya belajar seperti apa sistem administrasi yang rapi dan terorganisir. Ilmu itu aku praktikkan juga di RED, sambil bertanya-tanya, “Apa sih yang masih kurang?” Ternyata, magang itu semacam latihan awal buatku—walaupun nggak dibayar, nggak apa-apa. Yang penting saya belajar bagaimana rasanya bekerja secara nyata.

Setelah akhirnya jadi sekretaris, rasanya... lega. Dulu aku hanya bisa membayangkan pekerjaan ini, tapi sekarang aku benar-benar tahu seperti apa rasanya. Ternyata menyenangkan, penuh warna-warni yang tak pernah saya duga sebelumnya.

Dari semua divisi yang pernah saya jalani, rasanya posisi sekretaris adalah yang paling cocok untuk saya. Saya pernah jadi ketua, koordinator acara, koordinator sponsorship, bahkan bendahara. Setiap peran punya lika-likunya sendiri. Jadi ketua? Capeknya luar biasa—aku bahkan pernah nangis karena tekanan yang datang dari segala arah. Jadi koor acara? Malu luar biasa karena harus tampil dan bertemu banyak orang. Jadi sponsorship koor? Lelah mondar-mandir mencari dukungan dan proposal yang terkadang ditolak.

Tapi jadi sekretaris, meskipun tetap ada tantangan, saya merasa di dalamnya saya paling bisa berkembang. Ada rasa nyaman, tenang, dan cocok. Mungkin karena saya memang suka hal-hal yang rapi, terstruktur, dan terorganisir. Inilah lelahnya berorganisasi—tapi juga di letak senangnya.

Semua pengalaman itu—jadi sekretaris, jadi ketua, koordinator acara, sponsorship, sampai bendahara—akhirnya cuma bisa ditulis di CV dan LinkedIn, sambil dikenang-kenang dalam hati. Tapi… apakah itu cukup untuk membuat kita mudah mendapatkan pekerjaan?

Jawabannya: gak sesimpel itu.

Karena di luar sana, ada ribuan orang lain yang juga nulis pengalaman organisasi di CV mereka. Tapi yang membedakan, siapa yang bisa menjelaskan makna dan kontribusinya dengan jelas, dialah yang dilirik.

Jadi bukan soal seberapa banyak posisimu dalam organisasi, tapi seberapa dalam kamu belajar dan seberapa tepat kamu bisa menyampaikannya.

Kadang aku mikir, "Ini pengalaman capek-capek, begadang, stres, cuma jadi kenangan dan dua baris kalimat di CV doang?" Tapi ternyata, justru dari situlah aku bisa membangunkan cerita. Cerita tentang bagaimana aku belajar tanggung jawab, bagaimana aku ngatur waktu, bagaimana aku gagal, sampai bagaimana aku bangkit dan tetap lanjut.

Itu yang bikin saya percaya:
Pengalaman organisasi bukan hanya bekas jabatan, tapi bekas perjuangan.

Dan itu yang aku tulis di LinkedIn, aku bawa saat wawancara, aku jadikan bahan percakapan saat ditanya HRD,
"Ceritakan tentang dirimu."

Daftar pustaka: tulisan ini dibantu juga dengan chat GPT. Lagi belajar nulis gais. 


Nih buat jajan

elhrwla

Hi! Aku Beta, seorang blogger dari Jogja. Aku suka mereview buku, film, dan makanan. Selamat datang di blogku ya. Selamat membaca.

Previous Post Next Post

نموذج الاتصال