Semua punya minatnya masing-masing

Pernah, suatu malam yang hening, saya berdoa: “Tuhan, kalau bisa kasih aku teman yang suka drama Thailand, atau paling nggak ngefans sama Nanon Korapat.” Tapi ya, seperti biasa, Tuhan punya rencana lain. Beliau kirimkan saya teman-teman dari lingkungan EP yang hobi banget nonton badminton.

Kami bukan atlet, tapi kalau ada Japan Open, Indonesia Open, atau Sudirman Cup, kami seolah-olah jadi komentator bayangan. Dari teknik netting sampai strategi ganti raket, semua kami bahas, lengkap dengan harapan-harapan dan doa-doa supaya pemain kita menang. Yah, meski pada akhirnya sering juga berakhir kecewa karena prestasi yang belum memuaskan.

Sekarang? Teman-teman saya satu per satu sudah sibuk sama skripsi. Fokusnya bukan lagi di lapangan bulutangkis, tapi di ruang seminar. Saya bangga sih mereka sudah sampai tahap itu. Tapi ada sedikit rasa penasaran: setelah lulus, apakah kita masih bisa ngobrol soal badminton lagi? Atau topiknya bergeser ke lowongan kerja dan cicilan rumah?

Lucunya, di tengah-tengah pencarian jati diri, Tuhan kasih bonus tambahan: teman yang suka nonton drama China. Nggak seangkatan, tapi justru lebih nyambung. Mungkin karena saya juga sudah mulai masuk usia kepala dua versi mentok. Ya sadar diri lah, ngobrol sama anak 2023 kok rasanya kayak beda dimensi. Wkwk.

Sebenarnya, saya juga suka K-pop dan drama Korea. Dari kecil, malah. Tapi entah kenapa saya sering denial. Mungkin karena trauma debat sama teman sendiri gara-gara BTS vs One Direction. Waktu itu saya ngotot: “One Direction dong, mereka nyanyi beneran.” Saya belum bisa terima konsep lipsync sambil joget. Apalagi waktu itu isu operasi plastik di dunia K-pop masih dianggap tabu oleh netizen +62.

Padahal ya, saya hapal lagu EXO, Super Junior, Girls' Generation, sampai A-Pink. Dulu nangis nonton Full House (versi Rain sama Song Hye-kyo ya, bukan remake!). Jadi kalau kalian mau tahu kenapa saya nggak pernah ngaku K-popers, ya karena saya ini fleksibel: kadang suka Hollywood, kadang Bollywood, kadang drama Filipina, bahkan tahun kemarin saya baru pertama kali nonton film Vietnam—dan eh, bagus banget. Cobain deh, serius. Banyak budaya yang belum kita jamah, padahal seru.

Dan soal musik, saya juga pernah masuk fase suka musik indie. Waktu itu rasanya kayak punya selera eksklusif. Tapi giliran band-nya terkenal dan jadi top hits, saya langsung mundur pelan-pelan. Sifat buruk sih: merasa keren kalau suka yang belum banyak orang tahu. Begitu jadi konsumsi massal, rasanya kayak kehilangan identitas. Maunya jadi spesial sendiri. Egois banget ya? Biarin.

Oh ya, ngomong-ngomong soal musik: ada yang suka Shawn Mendes? Kalau iya, kita bisa jadi teman sekarang. Serius. DM aja. Biar bisa tukar-tukaran lagu favorit, atau sekadar bareng nyanyi “There’s Nothing Holdin’ Me Back” pas lagi hujan deras sambil nulis diary digital di Blogspot. 




elhrwla

Hi! Aku Beta, seorang blogger dari Jogja. Aku suka mereview buku, film, dan makanan. Selamat datang di blogku ya. Selamat membaca.

Previous Post Next Post

نموذج الاتصال