Banyak orang sebenarnya pengin jujur tentang apa yang mereka rasakan. Tapi ketika di akun utama, ada beban besar: takut di-judge, takut dianggap lebay, atau sekedar malu kalau orang dekat melihat sisi rapuhnya. Padahal, sering kali kenyataannya tidak ada yang benar-benar peduli. Orang lain sibuk dengan hidupnya masing-masing. Namun rasa takut ini tetap menghantui, sehingga kebenaran diri sendiri jarang bisa ditampilkan apa adanya.
Dari situlah lahir tren akun kedua. Sebuah ruang alternatif di media sosial di mana orang bisa memposting apa saja tanpa takut penilaian dari keluarga, teman kantor, atau kenalan lama. Di akun ini, seseorang bisa menjadi dirinya yang lebih jujur, entah itu menumpahkan keresahan, mengungkapkan pendapat yang berbeda, atau sekadar memposting hal receh yang tidak pantas masuk ke akun utama.
Fenomena ini sebenarnya menunjukkan satu hal penting: manusia membutuhkan ruang aman untuk mengekspresikan diri. Ironisnya, ruang itu lebih mudah ditemukan di akun cadangan dibandingkan di akun utama yang penuh “mata” dan ekspektasi. Jadi, akun kedua sering kali menjadi tempat momen kebenaran, di mana seseorang benar-benar berani menjadi dirinya sendiri, tanpa filter citra sosial.
Aku juga merasakan hal yang sama. Kadang aku sadar, di akun utama aku terlalu banyak mikirin apa kata orang. Mau posting aja harus ditimbang berkali-kali, takut dibilang lebay, takut dinilai aneh, takut dianggap nggak penting. Padahal sebenarnya, tidak ada yang benar-benar peduli.
Makanya aku lebih nyaman di akun ini. Akun kedua rasanya kayak ruang pribadi, tempat aku bisa bebas siapa pun memposting tanpa harus mikirin ekspektasi pun. Isinya cuma orang orang yang aku percaya, jadi aku bisa lebih jujur sama diri sendiri.
Di sini aku tidak harus sempurna. Aku bisa jadi aku, dengan segala keresahan, cerita receh, dan hal kecil yang kadang nggak pantas buat akun utama. Akun kedua jadi semacam diary digital. Bedanya, ada beberapa orang dekat yang ikut hadir sebagai pendengar. Mereka mungkin tidak selalu memberi solusi, namun kehadiran mereka membuat kita merasa tidak sendirian. Kadang justru di akun kedua itulah kita lebih jujur pada diri sendiri. Di balik akun yang kecil dan sepi, ada kebebasan yang besar untuk benar-benar jadi apa adanya.
