Sampai suatu hari, ia dapat tawaran untuk membaca skrip film anak-anak. Serius. Skrip film beneran.
Tentu saja waktu itu ia belum paham betul bedanya skrip film dan naskah drama 17-an. Tapi ia baca. Ia pelajari. Dan entah kenapa, ia membacanya dengan sangat serius. Bukan karena ambisi, tapi karena rasa penasaran. Mungkin juga karena saat itu ia belum punya cukup beban hidup, jadi fokusnya penuh.
Tak lama setelahnya, ia mendapat kabar: ia lolos. Ia dipilih untuk memerankan tokoh bernama Mumun dalam film pendek berjudul Gazebo.
Syutingnya dilakukan bareng anak-anak lain yang juga baru pertama kali main film. Mereka dilatih untuk menghafal dialog, mengatur ekspresi, dan tentu saja: mengulang adegan berkali-kali karena ada yang salah sebut, salah intonasi, atau... keburu lapar.
Ia belum tahu seperti apa dunia film itu sebenarnya. Tapi syuting bareng teman-teman, diajak sutradara ngobrol layaknya orang dewasa, dan diminta untuk “lebih jujur dalam ekspresi”—itu semua terasa baru, asing, dan menyenangkan.
Kalau anak-anak lain habis libur sekolah punya cerita soal main ke rumah nenek atau pergi ke pantai, ia punya cerita syuting. Meskipun belum sepenuhnya paham maknanya, pengalaman itu langsung menempati ruang khusus di hatinya. Diam-diam, ia bangga.
Setelah filmnya selesai, semua kembali seperti semula. Ia tetap sekolah. Tetap ikut PR. Tetap ikut upacara bendera tiap Senin pagi sambil ngantuk. Dunia film seperti menghilang. Bukan karena kecewa, tapi karena ia merasa itu memang cuma “pengalaman sekali seumur hidup.”
Film Gazebo perlahan jadi cerita kecil yang hanya sesekali muncul dalam ingatan. Kadang muncul saat melihat kamera, kadang saat lihat anak-anak di TV, kadang nggak muncul sama sekali.
Sampai suatu hari...
Ia iseng mencari informasi soal film itu. Penasaran, barangkali ada yang mengunggahnya di YouTube. Atau sekadar ingin melihat nama-nama pemain yang dulu syuting bareng. Ia ketik: “Gazebo film anak”.
Dan saat itu ia diam. Matanya menatap layar lebih lama dari biasanya.
Film itu pernah masuk nominasi Festival Film Indonesia (FFI).
https://www.festivalfilm.id/arsip/year/2013
Jujur saja, ia nyaris nggak percaya. Sebuah film yang ia mainkan waktu kecil, dengan lokasi syuting seadanya, properti sederhana, dan pemain-pemain cilik yang lebih sering lupa dialog daripada lancar—film itu masuk nominasi FFI?
Ia bahkan baru tahu setelah bertahun-tahun. Mungkin film itu sendiri pun sudah lebih dikenal orang lain duluan sebelum dirinya menyadari nilainya.
Antara terharu, malu, dan kaget. Tapi yang paling jelas: ia merasa harus melakukan sesuatu.
Ia mulai berpikir. Film anak-anak zaman sekarang makin jarang. Yang benar-benar menyuarakan dunia anak dari sudut pandang anak, bukan dari kacamata orang dewasa yang “menganggap anak-anak itu lucu”.
Banyak tontonan anak saat ini justru terlalu dewasa, terlalu menggurui, atau justru malah meremehkan anak. Padahal, anak-anak juga punya emosi yang utuh, punya sudut pandang sendiri, dan butuh ruang aman untuk bertumbuh.
Dan film Gazebo—dengan segala kesederhanaannya—menawarkan itu.
Film itu bukan cuma tentang anak-anak. Tapi juga bersama anak-anak. Digarap oleh mereka yang percaya bahwa anak-anak bisa jadi subjek utama cerita, bukan sekadar pemanis.
Ada satu bagian dari film itu yang masih ia ingat sampai sekarang. Lagu pembukanya.
"Hai kawan, dengarkanlah... dengarkanlah ceritaku...."
Kalau diingat sekarang, lagu itu seperti pintu. Pintu masuk menuju dunia kecil yang penuh imajinasi, harapan, dan makna. Dunia di mana anak-anak bisa belajar tanpa merasa digurui. Dunia yang kini terasa asing dalam dunia hiburan kita.
UPDATE NULIS 4 JANUARI 2026
SEBAGAI PENUTUP, AKU MAU KASIH SESUATUUU BACAAN YANG BAGUS KARENA DITULIS BERDASARKAN RISET DAN MUNCUL JUDUL FILM "GAZEBO". KALIAN JUGA BISA BACA YA. LINKNYA DI BAWAH INI.
-------------------------------------TOLONG ABAIKAN TULISAN YANG ADA DI BAWAH INI--------------- KARENA SAYA CUMAN BERMIMPI SAJA SAMPAI SEKARANG BELUM SAYA LAKUKAN---PERNAH MEMBUAT AKUN INSTAGRAM TAPI GA JADI GESSS KUHAPUS DAN KUGANTI YANG BARU---------------------------------------------NGAPUSIIIII----------------------------------
Kini, ia punya satu keinginan sederhana: ia ingin mempromosikan ulang film ini.
Ia sedang berencana membuat akun Instagram khusus yang berisi cuplikan film, cerita di balik layar, dan potongan pesan yang ada di dalamnya (belum sempat ya gaes kayaknya cuman angan-angan belaka). Ia berharap, film Gazebo bisa menjangkau anak-anak zaman sekarang, juga para orang tua yang ingin memberikan tontonan yang hangat untuk anak-anaknya.
Ia bahkan sempat berpikir, kalau suatu hari promosi ini menghasilkan sesuatu (entah itu traffic, donasi, atau perhatian publik), ia ingin mendonasikannya kembali ke komunitas film anak yang dulu membesarkannya.
Karena buat dia, film ini bukan hanya soal layar. Bukan hanya soal pernah tampil dan diingat orang. Tapi tentang bagaimana masa kecilnya punya ruang untuk berproses, tumbuh, dan didengar.
Dan kalau hari ini, satu anak kecil menonton Gazebo—kemudian tertawa, bertanya, atau sekadar ikut menyanyikan lagu pembukanya—maka semua rasa ragu dan lupa itu, akan terbayar lunas.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------





