Hari ini timeline saya ramai dengan foto-foto teman yang habis sidang. Background Zoom atau ruang sidang kampus jadi saksi, ditemani toga yang akhirnya dipakai setelah empat tahun jadi mitos. Caption-nya hampir seragam: "Perjuangan empat tahun akhirnya terbayar," atau "Skripsi ini penuh air mata dan kopi sachet."
Tapi di sela-sela euforia itu, saya jadi kepikiran satu hal yang selama ini diam-diam saya yakini:
Skripsi yang tidak diposting, tidak akan pernah memberi dampak.
Katanya, skripsi itu cuma bakal dibaca 10 orang: dosen pembimbing, penguji, satu-dua adik tingkat yang kepepet nyari referensi, dan kamu sendiri yang rerevisi sampai mimisan. Setelah itu? Tamat. Masuk rak digital perpustakaan, terkubur di server kampus yang isinya juga 90% file PDF judul panjang-panjang tapi cuma dibaca bab satu.
Padahal, skripsi itu bisa jadi lebih dari sekadar syarat wisuda. Dia bisa jadi artikel opini. Jadi konten edukasi. Jadi thread Twitter. Jadi carousel Instagram. Jadi podcast. Bahkan jadi modal awal buat kamu membangun personal branding sebagai “mahasiswa yang nulis bukan hanya buat IPK.”
Masalah satu: kita malu.
Malu tulisan karenanya terasa terlalu akademis. Terlalu banyak kutipan, terlalu banyak 'menurut... menurut... menurut...' Tapi siapa bilang kamu harus ngepos skripsimu utuh? Potong aja. Ambil ide besarnya. Ceritain prosesnya. Bagikan hasil wawancaranya. Bahas kenapa kamu tertarik ambil topik itu sejak awal. Percaya deh, banyak orang yang bakal lebih tertarik membaca wawasan dari skripsimu daripada caption motivasi dari coach-coach palsu di TikTok.
Saya pernah membaca skripsi teman tentang anak muda dan literasi digital. Bahasanya keren. Tapi dia cuma kirim ke pembimbing dan selesai. Padahal kalau ditulis ulang jadi artikel populer, mungkin bisa membantu ratusan anak muda lain yang masih bingung cara ngadepin hoaks
Jadi kalau kamu baru lulus, baru sidang, atau baru revisi dan pengin pamer skripsi—silakan. Tapi jangan hanya pamer cover dan senyuman. Coba juga pamer isi otaknya. Karena di zaman sekarang, validasi dari penguji itu penting. Tapi validasi dari pembaca yang berhubungan—itu yang membuat kamu layak diingat lebih dari sekedar “angkatan 2020, lulus 2024.”
Karena pada akhirnya, skripsi bukan soal siapa yang lebih cepat selesai. Tapi siapa yang berani membuat tulisannya hidup, bahkan setelah sidang dinyatakan tertutup.
