Tontonan bertema perjalanan waktu memang sedang digemari banyak orang. Selama ini, film atau drama perjalanan waktu yang terkenal kebanyakan datang dari Korea Selatan (drakor). Terlebih lagi, belakangan ini masyarakat Indonesia juga ramai membicarakan film Sore yang tayang di bioskop dengan cerita utama tentang perjalanan waktu. Tapi, pernahkah kamu terpikir untuk mencoba menonton versi time travel dari negara lain, seperti China atau Taiwan? Ternyata, film dan drama mereka juga tidak kalah seru dan layak masuk daftar tontonan kamu!
Berikut dua judul drama yang bisa kamu tonton berdasarkan rekomendasi penulis.
1. Someday or One Day
Sinopsis
Pada tahun 2019, Huang Yu Xuan yang berusia 27 tahun masih terus merindukan kekasihnya, Wang Quan Sheng, yang sudah dinyatakan hilang dan diduga meninggal dua tahun lalu. Di hari ulang tahunnya, Yu Xuan berharap bisa “melihatnya lagi.” Di sisi lain, pada tahun 1998, Chen Yun Ru yang berusia 17 tahun diam-diam memendam rasa pada seorang pria yang tak pernah membalas cintanya. Tepat di hari ulang tahunnya, Yun Ru pun berharap bisa “menjadi gadis yang dicintai Li Zi Wei.” Secara misterius, sebuah pemutar kaset kuno justru membawakan Yu Xuan menembus waktu dan terbangun di masa lalu sebagai Chen Yun Ru.
Di kehidupan barunya sebagai siswi SMA, Yu Xuan terkejut saat mendapati orang di sisinya bukanlah Wang Quan Sheng, melainkan Li Zi Wei. Kini terperangkap di masa lalu, Yu Xuan harus menjalani hidup Yun Ru sambil berusaha mencegah kematian tragis Yun Ru di tahun 1999. Rumitnya, Li Zi Wei justru jatuh hati padanya, sementara sahabat Li Zi Wei, Mo Jun Jie, juga menaruh perasaan. Akankah cinta sejati mampu menembus batas waktu dan takdir yang rumit ini?
Review penulis:
Awalnya, banyak orang—termasuk beberapa penonton—merasa ragu untuk menonton drama Taiwan ini karena mengira ceritanya akan membosankan seperti beberapa drama Taiwan lainnya. Apalagi, hype yang terlalu besar seringkali menandakan drama tersebut hanya populer di permukaan. Namun, Someday or One Day justru membuktikan sebaliknya. Drama ini berhasil memadukan tiga genre favorit sekaligus: melodrama yang penuh tema gelap, tragedi, dan konflik batin; romansa remaja sekolah yang manis dan polos; serta misteri perjalanan waktu yang rumit dengan banyak plot twist, namun tetap mudah diikuti jika ditonton dengan cermat.
Cerita Someday or One Day ditulis dengan sangat detail, meninggalkan petunjuk di setiap episode yang membuat penonton tertantang untuk merangkai kepingan misteri hingga akhir. Tidak ada episode yang terasa sia-sia atau sekadar pengisi. Justru, semakin lama ditonton, semakin terasa betapa kuatnya plot dan pengembangan karakternya. Drama ini juga mengangkat isu-isu penting seperti memikirkan seksual, perundungan, homofobia, hingga depresi dengan cara yang realistis dan penuh empati. Drama ini sangat menyentuh penonton karena memerankan karakternya terasa dekat dengan kehidupan nyata.
Penampilan Alice Ke sebagai pemeran utama patut diacungi jempol karena berhasil memainkan dua karakter yang sangat berbeda dengan sangat meyakinkan. Karakternya tidak berlebihan, tetap rasional, dan emosinya terasa nyata. Chemistry dengan lawan utamanya, Greg Hsu, juga membuat hubungan cinta keduanya terasa hidup dan menggetarkan hati. Ditambah lagi, suasana era 90-an yang kuat, detail artistik, dan musik yang indah menambah nilai lebih drama ini.
Singkatnya, Someday or One Day bukan hanya drama time travel biasa ia menjelma menjadi kisah cinta lintas waktu yang mengharukan, sekaligus mengingatkan tentang jati diri, rasa kehilangan, dan penebusan. Meski awalnya tampak rumit, plotnya terjalin rapi dengan akhir yang memuaskan dan meninggalkan kesan mendalam. Bagi pecinta misteri romantis dengan sentuhan nostalgia, drama ini benar-benar layak jadi tontonan favorit.
Selain versi dramanya, Someday or One Day juga punya versi filmnya, jadi kalian wajib banget menonton keduanya. Versi drama memberikan ruang cerita yang lebih dalam dengan detail dan perkembangan karakter yang kaya, sementara versi filmnya menawarkan sudut pandang baru yang tetap membuat penasaran dan emosional. Kalau mau benar-benar merasakan keseluruhan kisahnya, tonton keduanya biar pengalaman time travel-nya lengkap!
OST Someday or One Day estetik: link
2. Shining For One Things
Sinopsis:
Lin Bei Xing, seorang wanita muda yang hampir berusia 30 tahun, tiba-tiba menemukan kehidupannya yang berantakan ketika pertunangannya, Zhan Yu—pria yang sudah dicintainya sejak SMA—mutuskan pertunangan mereka demi menjalin hubungan dengan sahabatnya sendiri. Berharap bisa membangkitkan kembali kenangan indah masa lalu, Lin Bei Xing pun mengajak Zhan Yu mengenakan seragam sekolah dan kembali sejenak ke lingkungan SMA mereka. Namun, saat menunggu Zhan Yu di tengah hujan sambil menyalakan ponsel lamanya, Lin Bei Xing tanpa sadar justru terlempar kembali ke masa lalu.
Ia pun kembali menjadi gadis berusia delapan belas tahun. Meski tahun terakhir di SMA selalu jadi momoknya, Lin Bei Xing bertekad untuk mengulang ujian masuk perguruan tinggi dan melupakan Zhan Yu sepenuhnya. Namun, pertemuan tak terduga dengan Zhang Wan Sen usai ujian justru memicu perjalanan waktu Lin Bei Xing yang penuh kejutan.
Review penulis:
Ini adalah kisah cinta remaja yang dibumbui misteri dan sarat dengan derai air mata. Awalnya, penulis tertarik menonton drama ini karena sering mendengar orang marah, ditambah lagi banyak yang membandingkannya dengan *Someday or One Day*, salah satu drama favorit penulis sepanjang masa.
Bagi penulis, membandingkan drama ini dengan *Someday or One Day* sebenarnya membuat ekspektasi cukup tinggi. Memang, *Shining For One Thing* memiliki tema serupa—tentang masa muda, misteri, dan cinta yang mendalam antara dua tokoh utama. Bedanya, jika *Someday or One Day* lebih menekankan unsur fantasi dan teka-teki waktu, *Shining For One Thing* justru lebih menyoroti dinamika kehidupan remaja dan kenangan masa sekolah.
Hal terindah dari drama ini adalah cara mereka menggambarkan cinta — begitu dalam, tulus, dan menggetarkan hati. Awalnya penulis sama sekali tidak menyangka akan menemukan kisah cinta kekejaman ini di sebuah drama berlatar sekolah, tapi *Shining For One Thing* berhasil menyajikannya dengan luar biasa. Di sini, kita melihat tokoh utama perempuan yang sejak lama terjebak dalam cinta lamanya. Namun, lewat perjalanan waktu ke masa lalu, ia justru menemukan bahwa ada seorang laki-laki lain yang diam-diam mencintainya dan melindunginya selama bertahun-tahun tanpa ia sadari.
Cerita dimulai dengan tokoh perempuan yang masih tergila-gila pada orang lain, tapi setelah sadar akan kebenaran tentang pertunangannya, ia memilih untuk tidak menoleh ke belakang lagi. Ia pun bertekad menjalani hidupnya dengan cara yang berbeda. Mendekat dengan tokoh utama laki-laki karena suatu alasan pribadi, ia tak pernah menduga bahwa pertemuan itu akan mengajarkannya banyak hal: bagaimana menikmati hidup, berani bermimpi, dan menemukan dirinya sendiri. Dari sanalah, perlahan ia jatuh cinta dengan tulus. Ia pun sadar bahwa sebelum dicintai orang lain, seseorang harus bisa mencintai dirinya sendiri dulu—dan rasa takut maupun berkomunikasi hanya bisa melawan dengan keberanian untuk berubah.
Tokoh utamanya benar-benar memikat. Lin Beixing adalah sosok perempuan yang ceria, lucu, menarik, dan penuh percaya diri. Ia berjuang untuk masa depannya sendiri, bahkan dengan lantang berjanji akan melindungi orang yang dicintainya. Karakternya segar, kuat, dan sangat menginspirasi—penuh kelemahan manusiawi, namun justru membuatnya mudah disukai.
Sementara itu, Zhang Wansen membuktikan bahwa karakter pria pendiam, pemalu, dan introvert pun bisa begitu memikat. Cinta tulusnya, mengorbankannya, dan cara ia bertahan pada prinsipnya meski mencintai seseorang tanpa syarat, membuat karakternya begitu berkesan. Justru sikapnya yang tetap teguh pada tujuan dan pendiriannya menjadikannya semakin menawan.
Enam belas episode awal penuh keceriaan dan kehangatan tanpa drama berlebihan. Hubungan mereka digambarkan manis, sehat, dan saling mendukung—mereka menghadapi tantangan bersama dengan cara yang membuat penonton ikut tersenyum. Namun, saat rahasia tentang kejadian sepuluh tahun lalu terungkap, cerita berubah menjadi jauh lebih emosional dan menyayat hati. Ketika semua pengorbanan dan penyesalan terkuak, penonton diajak merasakan betapa besarnya arti 'andaikan' dalam hidup mereka.
Bahkan di adegan bahagia ketika ia kembali ke tahun 2007 untuk menyelamatkan sang kekasih, tangis pun tetap tak terbendung karena semua pengorbanannya begitu menyentuh. Melihat bagaimana ia memandang orang yang dicintainya dalam diam, hanya bersyukur bahwa ia masih hidup, terasa sangat mengena.
Drama ini pantas mendapat nilai 9.5/10 karena berhasil membuat penonton tertawa, jatuh cinta, dan menangis tersedu-sedu. Lagu-lagu pengiringnya juga luar biasa, dengan lirik yang menggambarkan hubungan tokoh utama dari sudut pandang masing-masing, mengalirkan emosi ke setiap adegan. Penutup ceritanya manis dan memuaskan.
Sama seperti Someday or One Day, *Shining For One Thing*juga memiliki versi film dengan soundtrack yang mendukung cerita emosi dan membuat penonton semakin hayut. Hingga sekarang, penulis masih sering mendengarkan lagu-lagunya.



Thank, yg udah baca
ReplyDelete