Negara Malaysia patut berbahagia. Bayangin aja, pas momen kemerdekaan, mereka nggak cuma nyanyi lagu kebangsaan atau nonton kembang api. Mereka dapat bonus prestasi: juara dunia bulutangkis. Itu lho olahraga yang kalau di Indonesia, biasanya ditayangkan di TVRI pas malam minggu sambil bapak-bapak teriak, “Smash! Smash!”
Tapi tunggu dulu, bukan cuma raket sama shuttlecock yang bikin Malaysia senyum. Pemerintah mereka juga memberikan kado istimewa: undang-undang untuk membuat pekerja gig. Jadi bukan hanya driver ojol atau kurir paket yang mendapat tepuk tangan di jalan, tapi juga perlindungan hukum di atas kertas. Keren kan?
Berbeda dengan Indonesia yang sedang mengalami dinamika. Demo usut tuntas kinerja pemerintahan sedang berjalan, lengkap dengan spanduk warna-warni, toa yang suara serak-serak basah, dan pelajar yang berhubungan dengan kepanasan demi teriak “hidup rakyat!” Kalau Malaysia dapat kado, kita dapat PR. Bedanya, kalau kado bikin senyum, PR kadang bikin kening berkerut.
Tapi begitulah tetangga dekat: satu lagi seneng, satunya lagi jungkir balik. Meski begitu, saya yakin ada banyak hal yang bisa dipelajari. Malaysia bisa nunjukin gimana ngasih hadiah manis buat rakyatnya, sementara Indonesia bisa nunjukin gimana rakyatnya nggak pernah capek buat nuntut keadilan.
Bahkan kedekatan itu semakin terasa. Teman-teman dari Malaysia, bahkan dari lingkup ASEAN, beramai-ramai menunjukkan dukungannya untuk warga Indonesia. Mereka membuktikannya dengan cara sederhana namun bermakna: membelanjakan para driver ojek makanan online. Aksi kecil ini menjadi bentuk solidaritas yang hangat, seolah mengatakan bahwa di tengah dinamika yang kita hadapi, kita tidak sendirian.
