Gue bukan tipe pelajar yang demen baca. Jangankan jurnal, baca artikel berita aja kadang gue skip langsung ke kalimat terakhir. Buat gue, tulisan panjang itu menyebalkan. Panjang, pusing, dan sok formal. Tapi entah kenapa, dua tahun lalu, gue malah nekat nulis artikel ilmiah. Iya, jurnal akademik. Yang footnote-nya banyak. Yang kata-katanya ribet. Yang bahkan penulisnya sendiri kadang lupa nulis apa.
Waktu itu aku tidak sendirian. Ada teman-teman dari organisasi, dan satu dosen pembimbing yang kayaknya sudah terlalu sering ngelus dada tiap kali lihat draft kami.
Kami ambil topik keren banget: **kepadatan penduduk terhadap konsumsi energi.** Kedengarannya kompleks, dan memang iya. Apalagi buat kami yang Excel aja masih pakai autofill buat semua hal.
Kami nggak terlalu ngerti teori, nggak terbiasa membaca, tapi kami **berani mulai**. Bukan karena siap, tapi karena tidak tahu harus takut sama apa.
Dan karena itu tadi: **kami belum tahu bahwa proses bakal serumit hidup.**
Tinjau ulang? Sudah kayak drama bersambung.
Ditolak? Sudah.
Ngulang analisis karena salah input? Pernah.
Sempet vakum karena satu orang magang, satu KKN, satu lagi patah hati dan sibuk rebahan? Tentu saja.
Pokoknya, lengkap.
Tapi kami terusin. Karena kalau berhenti, semua kerja keras jadi sia-sia. Dan karena di dalam hati, gue pengin punya satu hal buat gue tunjukin ke dunia dan bilang, “Ini hasil mikir gue. Walaupun lambat, gue sampai juga.”
Dan akhirnya, setelah dua tahun, artikel itu **terbit juga**.
Kertas ilmiah. PDF beneran. Ada nama gue di atas. Ada kutipan. Ada abstrak.
Dan ya, meskipun dibacanya tetap berat, tapi rasanya ringan banget. Karena ini bukan hanya tulisan. Ini **kemenangan kecil buat gue yang dulu nggak percaya diri nulis apa pun.**
Gue nggak nulis ini buat pamer. Tapi jujur, ini salah satu titik balik penting dalam hidup gue.
Soalnya di dunia akademik, terkadang orang terlalu cepat bilang,
> “Lo harus rajin baca biar bisa nulis.”
> Tapi mereka lupa, ada juga orang-orang kayak gue.
> Yang dimulai bukan dari kebiasaan, tapi dari **kenekatan.**
Dan buat lo yang lagi mikir,
“Aku nggak terbiasa nulis,”
“Aku nggak jago teori,”
“Aku siapa sih mau bikin artikel?”
Gue jawab: **gue juga. Tapi ternyata bisa.**
Nggak semua orang harus jadi kutu buku buat punya karya. Kadang, lo cuma butuh satu teman yang ngajak nulis, satu dosen yang masih sabar baca revisi lo, dan satu keberanian buat bilang,
> “Ayo, kita mulai aja dulu.”
Link jurnal aku:


