Fenomena magang di kalangan mahasiswa semakin meningkat dibandingkan dengan berorganisasi. Magang dianggap lebih “menjual” di CV karena memberikan pengalaman nyata yang bisa langsung digunakan saat melamar kerja. Penulis juga sependapat dengan hal ini. Tak heran, banyak mahasiswa yang menganggap magang sebagai kebutuhan penting, karena materi kuliah saja sering kali tidak cukup sebagai bekal ketika lulus nanti. Orientasi setelah lulus jelas: kerja, dan magang dipandang sebagai jalan pintas menuju dunia kerja.
Namun, kenyataannya tidak seindah brosur kampus atau seminar operator. Banyak perusahaan melihat tren ini sebagai peluang untuk mendapatkan tenaga kerja murah—bahkan gratis. Praktik magang *tidak dibayar* (tidak dibayar) semakin marak, padahal secara aturan jelas tidak dapat diterima. Waktu, tenaga, dan pikiran pelajar tetap dihitung sebagai kontribusi kerja, sehingga sewajarnya diberi penghargaan yang layak. Sayangnya, praktik ini masih sering dianggap hal biasa, seolah-olah magang hanyalah “kesempatan belajar” tanpa kewajiban perusahaan untuk menghargai kerja keras para siswa.
Lebih ironis lagi, siswa justru sering berada di posisi serba salah. Mau menolak, takut kehilangan kesempatan menambah pengalaman dan portofolio. Mau menerima, berarti harus rela waktu dan tenaga terbuang tanpa kompensasi yang seimbang. Akhirnya, banyak yang memilih jalan tengah: “yang penting dapat pengalaman dulu, urusan biaya belakangan.” Mentalitas ini yang kemudian semakin menormalisasi magang *tidak dibayar* di banyak sektor.
Pengalaman pribadi penulis jadi salah satu buktinya. Cari tempat magang yang benar-benar berkualitas ibarat mencari jarum di tumpukan jerami. Setelah usaha ke sana-sini, akhirnya dapat juga tempat magang. Hanya saja, kehormatan yang diterima jauh dari bayangan: bukan uang, melainkan sebatas kotak nasi. Meski awalnya terasa mengecewakan, pada akhirnya pengalaman itu tetap dijalani. Toh daripada tidak punya pengalaman magang sama sekali, setidaknya perut masih bisa kenyang meski dompet tetap kempes.
Tentu, pengalaman semacam ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah magang memang sekadar formalitas untuk mempercantik CV, atau seharusnya menjadi proses belajar yang sehat dan adil? Kalau pelajar hanya dianggap “tenaga kerja gratisan” yang dibayar dengan nasi kotak, lama-lama magang dunia akan kehilangan makna sebenarnya. Padahal, idealnya magang adalah jembatan untuk mempelajari profesionalisme, mengasah keterampilan, dan mendapat penghargaan yang layak atas kontribusi yang diberikan.
Pada akhirnya, kenyataan pahit ini memang sudah menjadi rahasia umum. Mahasiswa tetap butuh magang, sementara perusahaan tetap butuh tenaga tambahan yang murah. Pertemuan di tengahnya sering kali tidak seimbang. Selama regulasi belum ditegakkan dengan baik, mungkin kita hanya bisa berharap: semoga kotak nasi yang jadi bayaran, setidaknya, porsinya jangan pelit.
Namun di balik itu semua, pengalaman magang—entah dibayar uang, nasi kotak, atau bahkan hanya ucapan terima kasih—tetap membawa pelajaran berharga. Ia melatih mental, memberi gambaran nyata tentang dunia kerja, sekaligus menambah cerita dalam perjalanan akademik. Harapannya, ke depan mahasiswa tidak lagi dipandang sebagai “pekerja gratis”, tetapi sebagai calon profesional yang layak dihargai. Karena generasi muda diberi ruang belajar yang adil, mereka tidak hanya menambah portofolio, tapi juga menyiapkan masa depan yang lebih sehat untuk dunia kerja kita bersama.
Support me: Nih buat jajan
